MUKOMUKO, Investigasi.News– Di tengah gempuran tantangan global yang sedang dihadapi oleh bangsa dan negara, serta upaya keras pemerintah pusat dalam menyeimbangkan roda ekonomi demi kesejahteraan rakyat, sebuah fakta mencengangkan justru terungkap di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu.Senin 20/4/2026
Publik dikejutkan oleh rencana maupun realisasi pengadaan alat komunikasi berkelas premium, yakni perangkat iPhone 17 Pro Max, di lingkungan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat.
Kondisi ini tentu menjadi tanda tanya besar dan menuai kritik pedas dari berbagai kalangan. Bagaimana tidak, saat ini pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sedang gencar-gencarnya menggaungkan visi misi besar demi terwujudnya kemakmuran serta kesejahteraan yang merata. Di saat yang sama, negara pun tengah berupaya keras meredam dampak gejolak ekonomi global, mulai dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga fluktuasi harga bahan pokok akibat konflik antarnegara, semuanya dilakukan agar rakyat tidak sampai terkena imbas yang terlalu berat.
Pemerintah pusat pun secara tegas telah menginstruksikan pentingnya prinsip efisiensi anggaran. Setiap rupiah yang berasal dari kas negara harus benar-benar dipergunakan dengan sebaik-baiknya, tepat sasaran, dan mengedepankan prinsip hemat namun cerdas. Namun, ironisnya, hal tersebut tampaknya kontras dengan apa yang terjadi di Mukomuko. Pengadaan perangkat dengan nilai yang diduga mencapai ratusan juta rupiah itu memunculkan pertanyaan mendasar: Apakah ini sebuah bentuk kemewahan yang tidak mendesak, atau justru masuk dalam kategori pemborosan anggaran yang nyata?
“Di mana letak azas manfaatnya? Apakah perangkat sekelas iPhone 17 Pro Max tersebut benar-benar mutlak diperlukan untuk menunjang pelayanan publik, atau justru lebih bersifat gaya hidup dan pemenuhan keinginan semata?” demikian pertanyaan yang bergema di tengah masyarakat.
Seorang narasumber yang memahami seluk-beluk pengelolaan keuangan daerah, yang meminta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan dan kelancaran aktivitasnya, menyuarakan kekecewaan yang mendalam kepada awak media. Dengan nada suara yang tegas, lantang, dan raut wajah yang terlihat sangat kesal serta geram, ia menilai bahwa langkah tersebut sangat tidak tepat dan memprihatinkan.
“Ini sangat miris dan sungguh memprihatinkan. Saat negara berjuang keras menekan pengeluaran yang tidak prioritas, justru di sini terlihat adanya langkah yang seolah mengabaikan prinsip berhemat. Jika dugaan ini benar dan sudah terealisasi, maka ini adalah bentuk pemborosan yang sangat disayangkan. Uang rakyat yang seharusnya dialokasikan untuk hal-hal yang jauh lebih mendesak, seperti infrastruktur, kesehatan, maupun bantuan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan, justru habis terkuras untuk barang yang sifatnya sangat personal dan berlebihan,” ungkap sumber tersebut dengan emosi yang tertahan.
Lebih jauh, narasumber menuntut agar pihak terkait, khususnya pemerintah pusat dan lembaga pengawas, tidak hanya bersikap seremonial atau sekadar lewat ucapan belaka. Diperlukan tindakan evaluasi yang nyata, tegas, dan objektif. Prinsip tata kelola keuangan negara yang baik menuntut adanya azas kepatutan, azas kemanfaatan, dan azas kepantasan. Anggaran harus dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas, bukan hanya dinikmati oleh segelintir orang.
“Kami berharap instruksi dari pusat agar tidak terjadi pemborosan dapat benar-benar ditegakkan. Jangan sampai semangat efisiensi hanya menjadi wacana, sementara di lapangan praktik pemborosan terus terjadi berulang-ulang. Sudah saatnya setiap pengeluaran dipertanggungjawabkan, demi terwujudnya kesejahteraan yang sebenarnya dan agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa mendatang,” tegasnya menutup pembicaraan.
Kini, mata masyarakat tertuju pada respons pihak DPRD Mukomuko maupun pemerintah daerah. Masyarakat menanti klarifikasi dan bukti nyata bahwa setiap anggaran yang dikeluarkan benar-benar memiliki justifikasi yang kuat dan berpihak kepada kepentingan rakyat banyak.
Wartawan : Hidayat







