Polsek Manna Mediasi Kasus Pencurian Antar Keluarga, Selesaikan Secara Kekeluargaan

More articles

Bengkulu Selatan,Investigasi.News– Polsek Manna, Polres Bengkulu Selatan, berhasil memfasilitasi penyelesaian kasus pencurian yang terjadi di lingkup keluarga melalui jalur problem solving.

 

Proses mediasi berlangsung di Mako Polsek Manna pada Kamis, 15 Mei 2026, pukul 17.30 WIB hingga selesai, dipimpin oleh personel Bhabinkamtibmas BRIGPOL Adhitya Dwi N dan BRIGPOL Tebri H.

 

Kasus ini bermula dari serangkaian aksi pencurian yang dilakukan oleh tiga anak di bawah umur terhadap salah satu anggota keluarga mereka sendiri.

 

Perbuatan tersebut diketahui berlangsung sejak Januari hingga Mei 2026. Korban dalam perkara ini adalah Yuniarti, 47 tahun, warga Desa Lubuk Sirih Ilir, Kecamatan Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan.

Baca Juga :  Pakar Hukum Apresiasi Putusan MK Nomor 223/PUU-XXIII/2025 Terkait Jabatan ASN oleh Anggota Polri

 

Pihak yang ditetapkan sebagai pihak pertama dalam mediasi adalah Nepsa Anggadrama, 15 tahun, warga Desa Lubuk Sirih Ilir, Kecamatan Manna; Oci Tredo Saputra, 16 tahun, warga Desa Cawang, Kecamatan Lubuk Sandi, Kabupaten Seluma; dan Akbar Winata Pratama, 16 tahun, warga Desa Lubuk Sirih Ilir, Kecamatan Manna. Ketiganya masih berstatus pelajar.

 

Yang membuat kasus ini menjadi perhatian adalah adanya hubungan kekeluargaan yang erat antara pelaku dan korban. Orang tua dari pihak pertama diketahui merupakan saudara kandung dari pihak kedua.

 

Fakta ini menjadi pertimbangan utama dalam memilih pendekatan penyelesaian yang lebih mengedepankan musyawarah.

 

Dalam proses mediasi yang berlangsung dengan suasana tertib dan kekeluargaan, kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan permasalahan tanpa menempuh jalur hukum.

Baca Juga :  Respons Cepat, Polda Sumbar Bantu Pemulihan Korban Bencana di Kecamatan Pauh

 

Poin kesepakatan yang disetujui antara lain: masalah diselesaikan secara kekeluargaan, pihak kedua menerima perdamaian dan memaafkan pihak pertama, serta kedua belah pihak berkomitmen tidak akan membawa persoalan ini ke ranah pidana.

 

Kesepakatan juga menegaskan bahwa apabila di kemudian hari salah satu pihak mengingkari perjanjian damai tersebut, maka proses hukum dapat dibuka kembali sesuai ketentuan yang berlaku.

 

Sebagai bentuk itikad baik, pihak pertama telah mengembalikan seluruh kerugian yang dialami pihak kedua, sehingga hak-hak korban dinyatakan telah pulih.

 

BRIGPOL Adhitya Dwi N menjelaskan bahwa pendekatan problem solving ini sejalan dengan prinsip restorative justice, terutama karena pelaku masih di bawah umur dan ada hubungan darah yang kuat antara kedua keluarga.

Baca Juga :  Tokoh Adat Papua Apresiasi dan Dukung Satgas Ops Damai Cartenz Tindak KKB* *Jayapura –* Ondofolo Sentani Yanto Eluay menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Polri, khususnya Satgas Operasi Damai Cartenz, dalam penegakan hukum terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua. Dukungan itu diberikan demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Bumi Cenderawasih. “Kami seluruh masyarakat Papua, khususnya para tokoh adat, memiliki tanggung jawab menjaga tanah Papua agar tetap aman dan damai. Apa pun yang negara lakukan melalui Satgas Ops Damai Cartenz adalah untuk mewujudkan Papua yang aman dan damai,” ujar Yanto Eluay di Jayapura, Senin (18/8). Ia menegaskan, tindakan penegakan hukum yang dilakukan Satgas Ops Damai Cartenz patut diapresiasi, terutama terhadap pihak-pihak yang masih melakukan tindakan kriminal, penembakan, atau gangguan keamanan di beberapa wilayah pegunungan dan daerah lain di Papua. “Harapan kami, semua tindakan yang mengganggu situasi kamtibmas segera dihentikan. Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Polri yang sudah berupaya menjaga keamanan,” tambahnya. Yanto juga mengajak seluruh masyarakat Papua untuk bersama-sama mendukung upaya penegakan hukum oleh Polri melalui Satgas Ops Damai Cartenz. Menurutnya, kondisi aman dan damai menjadi kunci bagi kemajuan Papua. “Mari kita jaga selalu Papua yang aman dan damai sehingga pembangunan dapat berjalan lancar dan masyarakat bisa merasakan kesejahteraan bersama,” pungkasnya.

 

“Kami mengutamakan penyelesaian yang memulihkan hubungan kekeluargaan tanpa harus membuat anak-anak berhadapan langsung dengan proses peradilan pidana. Dengan catatan kerugian sudah dikembalikan dan ada komitmen untuk tidak mengulangi,” ujarnya.

 

Hingga berita ini diturunkan, situasi di Desa Lubuk Sirih Ilir dilaporkan aman dan kondusif. Kedua keluarga menyatakan menerima hasil mediasi dan berjanji menjaga keharmonisan keluarga ke depan.

 

Polres Bengkulu Selatan melalui Polsek Manna terus mendorong penyelesaian konflik sosial di tingkat masyarakat menggunakan jalur mediasi, sebagai upaya mencegah perkara kecil berkembang menjadi masalah hukum yang panjang.

 

Langkah ini juga menjadi bagian dari program Polri yang bersinergi, adil, modern, dan amanah dalam melayani masyarakat.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest