Bengkulu, investigasi.news – Menjelang pergantian tahun 2025, pedagang petasan dan terompet di Kota Bengkulu mengeluhkan minimnya pembeli. Salah satu pedagang, Murti, yang membuka lapaknya di kawasan Masjid Jamik, Jalan Jendral Sudirman, Kelurahan Pintu Batu, Kecamatan Teluk Segara, mengungkapkan penjualan tahun ini sangat lesu dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kami sangat merasa kesulitan menjual petasan tahun ini. Minimnya pembeli membuat omzet penjualan kami turun drastis. Padahal, kami juga memiliki keluarga yang perlu kami biayai,” ujar Murti saat ditemui di lapaknya, Selasa (31/12/2024).
Murti telah berjualan perasan setiap tahun baru sejak tahun 2007, ia mengatakan bahwa biasanya ia memulai berjualan sejak tanggal 10 Desember. Namun, tahun ini hujan yang terus-menerus mengguyur Bengkulu beberapa pekan terakhir memaksanya baru bisa membuka lapak pada tanggal 20 Desember. Kondisi ini semakin memperburuk penjualannya.
“Kalau dulu dengan modal Rp 5 juta, omzet bisa mencapai Rp 10 juta. Tapi sekarang, modal saja belum kembali,” keluhnya.
Di lapaknya, Murti menawarkan berbagai jenis petasan dan kembang api dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 350 ribu per item. Selain itu, ia juga menjual terompet dengan harga Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu, tergantung ukuran. Namun, meski harga yang ditawarkan cukup terjangkau, pembeli tetap sepi.
Situasi ini menjadi pukulan berat bagi Murti dan pedagang lainnya yang menggantungkan penghasilan dari penjualan musiman tersebut.
“Kami hanya bisa berharap beberapa jam terakhir ini ada peningkatan pembeli, meski tidak yakin bisa menutupi modal,” pungkasnya.
Penulis : Intan Putri Aqilah







