Bengkulu, investigasi.news – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba sedang merebak di beberapa wilayah di Indonesia. Namun, hingga saat ini, Kota Bengkulu masih tercatat bebas dari kasus PMK berdasarkan laporan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bengkulu.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Kota Bengkulu, Henny Kusuma Dewi, menyatakan bahwa hingga 10 Januari 2025, tidak ditemukan adanya gejala atau tanda-tanda PMK di wilayah tersebut.
“Alhamdulillah, sampai sekarang belum ada laporan terkait PMK di Kota Bengkulu,” ungkap Henny.
Sebagai langkah antisipasi, DKPP telah menjalin koordinasi dengan Balai Veteriner Lampung untuk memastikan kesiapan menghadapi kemungkinan kasus. Jika ada laporan, sampel akan segera diambil untuk diuji.
“Kami sudah melakukan koordinasi dengan Balai Veteriner Lampung. Jika ditemukan kasus, kami akan segera mengirim sampel untuk memastikan apakah itu PMK atau bukan. Hingga saat ini, tidak ada laporan dan semoga tetap seperti itu,” ujar Henny.
PMK sendiri pernah merebak di Indonesia pada tahun 2022. Berkat kerja sama yang baik antara peternak dan pihak pemerintah, kasus tersebut berhasil ditangani dengan efektif.
Untuk mencegah penyebaran penyakit ini, DKPP rutin melakukan vaksinasi kepada hewan ternak setiap enam bulan. Selain itu, pihaknya juga gencar memberikan edukasi kepada peternak melalui sosialisasi langsung.
“Vaksin booster pertama diberikan enam bulan sekali, dan vaksin berikutnya dilakukan setiap tahun,” jelas Henny.
Sementara itu, Bambang (46), seorang peternak sapi di Bengkulu yang sudah berpengalaman selama 15 tahun, membagikan kisahnya saat hewan ternaknya terserang PMK pada tahun 2022.
“Waktu itu, hampir semua sapi saya terkena PMK. Untungnya, dengan penanganan yang tepat, sapi-sapi tersebut bisa sembuh, kecuali satu yang sudah terlalu parah,” kata Bambang.
Ia menjelaskan bahwa langkah-langkah utama yang diambil meliputi pemberian vitamin, antibiotik, dan menjaga kebersihan kandang secara ekstra. Virus PMK, menurutnya, bisa menyebar melalui angin, lalat, atau kontak langsung.
“Gejalanya meliputi cairan yang keluar dari mulut, kuku yang membusuk, dan nafsu makan berkurang. Kalau segera ditangani, biasanya dalam waktu seminggu kondisi sapi mulai membaik,” tambahnya.
Dengan langkah pencegahan yang terus dilakukan oleh DKPP dan kesiapsiagaan para peternak, diharapkan Kota Bengkulu tetap terbebas dari ancaman PMK.
Penulis : Intan Putri Aqilah







