Pasaman, Investigasi. News— Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Rimbo Janduang, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, semakin mengkhawatirkan masyarakat lokal. Kawasan perbukitan yang dulunya hijau dan menjadi sumber kehidupan kini diubah wajahnya dengan lubang tambang menganga, suara mesin yang tak kunjung berhenti, serta sungai yang keruh kecokelatan.5/1/2026
Operasi Terbuka dan Terstruktur
Hasil penelusuran lapangan menunjukkan bahwa PETI di lokasi tersebut bukan lagi aktivitas sembunyi-sembunyi. Operasi berjalan terbuka dengan struktur yang jelas dan diduga melibatkan modal besar, dimana alat berat keluar-masuk tanpa hambatan dan penambangan berlangsung siang maupun malam.
“Kondisi ini sudah lama terjadi. Mesin bekerja terus, sungai rusak, tapi tidak pernah ada tindakan nyata,” ujar salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Dampak Mengintai Masyarakat
Dampak PETI sudah dirasakan secara langsung. Sungai yang selama puluhan tahun menjadi sumber air minum dan irigasi kini berubah menjadi aliran lumpur pekat. Lahan pertanian mulai kehilangan kesuburan, sementara risiko longsor dan banjir meningkat akibat kerusakan struktur tanah dan akar pepohonan.
“Air sudah tidak bisa kami pakai. Sawah kami ikut rusak. Kalau hujan deras, kami takut longsor,” ucap warga lainnya dengan nada kecewa.
Laporan Tak Ditindaklanjuti, Dugaan Ada Jaringan Terorganisir
Masyarakat mengaku telah berulang kali melaporkan ke tingkat kecamatan hingga aparat penegak hukum, namun laporan tersebut tidak pernah mendapatkan tindakan serius. “Kami hanya dapat janji. Tidak ada penertiban. Alat berat tetap bekerja seolah kebal hukum,” tegas salah seorang warga.
Skala aktivitas PETI menimbulkan dugaan kuat adanya jaringan terorganisir, bukan lagi penambangan rakyat tradisional melainkan operasi besar dengan sistem distribusi hasil yang rapi. Ketua Forum Pemuda Rimbo Janduang menyatakan, “Ini bukan kebetulan. Kalau tidak ada pembiaran, tidak mungkin alat berat bisa bebas beroperasi. Kami menduga ada pihak-pihak yang bermain.”
Masyarakat Desak Tindakan Tegas
Sejumlah tokoh adat dan pemuda kini bersatu mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk bertindak tegas. Mereka menuntut penutupan total seluruh lokasi PETI serta penegakan hukum tanpa pandang bulu terhadap pelaku dan pihak yang terlibat.
“Negara tidak boleh diam. Kalau ini terus dibiarkan, Rimbo Janduang hanya akan mewariskan kerusakan untuk anak cucu kami,” tegas perwakilan tokoh adat. Mereka juga menyatakan siap melakukan langkah-langkah sosial secara damai jika tidak ada tindakan konkret dari pihak berwenang.
Di tengah bayangan alat berat yang memanjang di bekas galian, pertanyaan besar menggema di tengah masyarakat: sampai kapan eksploitasi ilegal ini akan dibiarkan, dan di mana peran negara saat alam serta kehidupan warga perlahan dihancurkan.
Penulis :HD







