Bengkulu, Investigasi.News- Sebuah laporan yang menyatakan bahwa Dekan Universitas Bengkulu (Unib) Abdul Rahman melakukan penganiayaan terhadap rekan dosennya Wahyu yang tengah beredar dan menjadi perbincangan hangat di media sosial, ternyata memberikan hasil yang sangat berbeda dari yang diharapkan. Alih-alih mendapatkan dukungan publik, kasus ini justru membuat ribuan alumni Unib bersuara dan menyerukan berbagai komentar positif terhadap Dekan Abdul, sementara tuduhan baru muncul menyangkut perilaku Prof Wahyu terkait pemberian nilai mahasiswa.Sabtu 14/2/2026
Perbincangan ini mulai ramai setelah laporan mengenai insiden yang diduga terjadi antara kedua dosen tersebut beredar luas di platform media sosial beberapa hari yang lalu. Dalam laporannya, Wahyu menyatakan bahwa dirinya menjadi korban penganiayaan fisik dari Dekan Abdul dalam sebuah pertemuan kerja. Namun, cerita tersebut segera mendapat tanggapan yang kuat dari komunitas alumni Unib yang tidak tinggal diam melihat nama Dekan yang telah melayani institusi tersebut selama bertahun-tahun dicoret-coret.
Alumni Bersuara: Pak Abdul Dekan yang Transparan dan Peduli
Ratusan komentar dan unggahan dari para alumni mulai muncul di berbagai grup WhatsApp, Facebook, dan Tik tok yang khusus untuk komunitas alumni Unib. Banyak di antaranya yang secara terbuka menyatakan bahwa Dekan Abdul adalah pemimpin yang transparan, khususnya dalam hal pengelolaan nilai mahasiswa.
“Saya lulus dari Unib tahun 2020 dan selama masa studi saya, Pak Abdul selalu menjaga transparansi dalam setiap proses penilaian. Tidak pernah ada kesan bahwa ia menyulitkan mahasiswa, bahkan sebaliknya – ia selalu bersedia membantu jika ada kesulitan terkait nilai,” ujar salah satu alumni yang ingin disebut dengan nama samaran Budi.
Tak hanya itu, beberapa narasumber yang merupakan tokoh alumni dan kini berkarier di berbagai bidang juga memberikan dukungan yang tegas. Salah satu dari mereka yang menjabat sebagai manajer di sebuah perusahaan besar di Jakarta menyampaikan, “Kualitas kepemimpinan Pak Abdul sebagai dekan sudah terbukti selama ini. Ia selalu memastikan bahwa sistem penilaian di kampus berjalan dengan adil dan tanpa unsur korupsi apapun. Kami sangat heran dengan laporan yang muncul dan merasa perlu untuk membela sosok yang telah banyak berkontribusi bagi kemajuan Unib.”
Bahkan beberapa mahasiswa aktif Unib juga ikut memberikan testimoni positif, menyatakan bahwa proses konsultasi nilai dengan Dekan Abdul selalu berjalan dengan lancar dan jelas, tanpa ada pungutan atau syarat apapun.
Tuduhan terhadap Prof Wahyu: Harus Beli Barang di Butik Istri untuk Nilai Sempurna
Sementara dukungan terhadap Dosen Abdul semakin meningkat, muncul pula informasi baru yang mengungkapkan berbagai keluhan terkait perilaku Prof Wahyu dalam hal pemberian nilai mahasiswa. Sebuah narasumber dengan identitas yang dirahasiakan menyampaikan bahwa selama menjadi dosen di Unib, Prof Wahyu seringkali menyulitkan mahasiswa dalam proses penilaian.
“Saya pernah mengalami sendiri ketika mengambil mata kuliah yang diajarkan oleh Pak Wahyu. Setelah mengikuti ujian dan tugas dengan baik, saya diberitahu bahwa nilai saya belum cukup untuk mendapatkan A. Kemudian saya diarahkan untuk membeli beberapa barang di sebuah butik yang ternyata milik istri beliau jika ingin mendapatkan nilai sempurna,” ujar narasumber tersebut dengan nada kesal.
Informasi ini juga mendapat dukungan dari beberapa alumni lain yang mengaku memiliki pengalaman serupa atau mengetahui kasus serupa yang terjadi pada teman-teman mereka. Beberapa di antaranya menyatakan bahwa mereka terpaksa memenuhi permintaan tersebut karena takut tidak dapat lulus tepat waktu atau mendapatkan nilai yang mempengaruhi kelulusan mereka.
“Saya tahu beberapa teman yang harus membeli pakaian atau aksesoris dengan harga yang tidak murah di butik tersebut hanya untuk mendapatkan nilai yang baik. Ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan mahasiswa pada masa itu, namun tidak banyak yang berani berbicara karena khawatir akan mendapat tindakan balik,” ujar salah satu alumni lainnya.
“Nepuk Air di Dulang” – Pepatah yang Pas untuk Kasus Ini
Situasi yang terjadi memang sangat sesuai dengan pepatah lokal “nepuk air di dulang” – di mana seseorang yang berusaha untuk menjatuhkan orang lain justru akhirnya merusak diri sendiri. Alih-alih mendapatkan pembelaan dan dukungan publik seperti yang mungkin diharapkan, Prof Wahyu kini harus menghadapi berbagai tuduhan yang muncul dari para alumni dan narasumber terkait perilakunya yang tidak pantas sebagai dosen.
Sampai saat ini, pihak Unib belum memberikan pernyataan resmi terkait kasus ini. Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh, pihak kampus sedang melakukan penyelidikan mendalam untuk mengetahui kebenaran dari kedua belah pihak dan mengambil tindakan yang sesuai jika ditemukan adanya pelanggaran aturan atau etika akademik.
Para alumni Unib juga menyampaikan harapan bahwa kasus ini dapat diselesaikan dengan transparan dan adil, serta menjadi pelajaran bagi seluruh komponen kampus untuk selalu menjaga integritas dan profesionalisme dalam menjalankan tugasnya. Mereka berharap bahwa nama baik Unib yang telah dibangun selama bertahun-tahun tidak akan tercoreng karena kasus ini.
Penulis Red







