Bengkulu, Investigasi.News– Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menggelar Rapat Koordinasi penting pada Senin, 1 Desember 2025, pukul 08.30 WIB. Rapat virtual yang dipimpin oleh Mendagri RI ini membahas persiapan menghadapi Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, serta antisipasi potensi bencana alam. Acara berlangsung di Balai Raya Semarak Bengkulu.
Rapat ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Wagub Bengkulu Ir. H. Mian, Ketua DPRD Provinsi Bengkulu Drs. Sumardi, M.M, perwakilan Danrem 041/Gamas Kol. Kav. Budiman, S.H., Karoops Polda Bengkulu Kombes Pol. Pontjo, S.I.K, M.H., Kabinda Bengkulu Reki Alfian, cS.Sos, M.Si, Asisten 1 Pemprov Bengkulu Drs. Khairil Anwar, M.Si, serta perwakilan dari Kajati Bengkulu, Kepala Disperindag, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu, Danlanal, BPBD Provinsi Bengkulu, dan unsur pimpinan lainnya.
Acara dimulai dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, diikuti dengan doa, sambutan dari Mendagri, dan paparan materi.
Dalam sambutannya, Mendagri RI Drs. H.M. Tito Karnavian, M.A., Ph.D., menekankan dua fokus utama: antisipasi bencana alam dan persiapan menghadapi Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Persiapan Nataru mencakup aspek transportasi, keselamatan, cuaca ekstrem, dan pengendalian inflasi, mengingat peningkatan mobilitas masyarakat dan potensi liburan.
Menkopolhukam menyampaikan lima langkah prioritas, meliputi menjaga soliditas Forkopimda, meningkatkan koordinasi lintas instansi, memastikan kelancaran mobilitas masyarakat, menjaga stabilitas sosial dan ketertiban umum, serta mengamankan tempat ibadah dan pusat keramaian. Pendekatan keamanan strategis yang diusung meliputi preventif, humanis, kolaboratif, berbasis intelijen dan data, responsif dan fleksibel, serta komunikasi publik yang efektif.
BMKG memaparkan potensi dinamika atmosfer aktif di Indonesia selama periode Nataru 2025/2026, dengan potensi peningkatan cuaca ekstrem pada minggu kedua Desember 2025 hingga minggu pertama Januari 2026. Waspada terhadap potensi tumbuhnya bibit siklon/siklon tropis di perairan selatan Indonesia hingga Nusa Tenggara Timur, Arafura, dan perairan selatan Papua. Wilayah yang perlu waspada meliputi Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa, Bali, NTB, NTT, Maluku, serta Papua Selatan dan Tengah.
BIN RI menyoroti potensi kerawanan menjelang Nataru, termasuk anomali cuaca, risiko bencana hidrometeorologi, pergerakan kelompok radikal, ancaman teror, aktivitas KSTP bersenjata, penolakan pembangunan dan aktivitas rumah ibadah, penyalahgunaan distribusi BBM subsidi, serta kenaikan harga kebutuhan pokok.
Basarnas menjelaskan peran dalam menyelenggarakan operasi siaga khusus Nataru untuk mendukung perjalanan mudik, mewujudkan pertolongan yang cepat, tepat, aman, terpadu, dan terkoordinasi. Prediksi ancaman meliputi bencana hidrometeorologi, geologi, kecelakaan transportasi, dan kondisi membahayakan manusia.
Kemenkes RI menyatakan memiliki 2.701 pos pelayanan kesehatan yang tersebar di 31 provinsi. Data penyakit pada tahun 2025 menjadi evaluasi untuk menghadapi Nataru 2025/2026 dan antisipasi bencana alam, meliputi hipertensi, nyeri kepala, influenza, pusing, nyeri otot, diare, luka robek/tusuk, radang tenggorokan, alergi, dan DM Tipe II.
Rapat koordinasi ini merupakan atensi dari Bapak Presiden RI, yang sebelumnya telah mengadakan rapat khusus dengan Mendagri untuk menciptakan stabilitas nasional dalam menghadapi Nataru 2025/2026 dan potensi bencana alam. Masing-masing kepala daerah diharapkan segera mengagendakan rapat lintas sektoral untuk mengantisipasi potensi masalah di wilayah masing-masing, khususnya di Provinsi Bengkulu.







