BENGKULU ,Investigasi. News– Pelaksanaan tes urine mendadak terhadap personel perwira menengah (pamen) Polda Bengkulu usai apel bersama, yang diawasi langsung Kapolda Irjen Pol. Mardiyono, S.I.K., M.Si., menjadi bukti komitmen institusi dalam menjaga kedisiplinan dan integritas anggota Polri. Namun, pertanyaan muncul: apakah langkah ini hanya ritual periodik atau benar-benar akan membawa perubahan substansial dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba di lingkungan kepolisian?
Dari satu sisi, langkah yang dilakukan Polda Bengkulu patut diapresiasi. Tes urine yang diumumkan secara mendadak mengurangi kemungkinan manipulasi hasil pemeriksaan, sementara pengawasan langsung dari Kapolda menunjukkan keseriusan pimpinan dalam menangani masalah sensitif ini. Upaya ini juga sejalan dengan tujuan untuk memastikan personel siap menjalankan tugas secara profesional, menjadi contoh bagi masyarakat, serta memperkuat kepercayaan publik yang sangat penting bagi institusi Polri.
Pernyataan Kapolda bahwa tidak akan ada toleransi terhadap pelanggar aturan, khususnya terkait narkoba, juga memberikan sinyal positif. Hal ini menunjukkan bahwa institusi tidak akan membiarkan anggota yang tidak memenuhi standar menjatuhkan marwah dan kehormatan Polri di tengah masyarakat. Proses pemeriksaan yang sesuai prosedur dan diawasi ketat oleh fungsi terkait juga menjadi jaminan bahwa kegiatan ini dilakukan secara objektif dan akuntabel.
Namun, dari sisi lain, tantangan yang harus dihadapi tidak berhenti pada pelaksanaan tes urine semata. Pertanyaan utama yang muncul adalah: bagaimana langkah tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan? Apakah akan ada program rehabilitasi yang komprehensif bagi personel yang terbukti positif, atau hanya akan diberikan sanksi keras tanpa upaya pemulihan? Selain itu, bagaimana menjamin bahwa tes urine ini bukan hanya kejadian satu kali, melainkan benar-benar menjadi program berkelanjutan yang menyentuh seluruh jenjang personel, tidak hanya perwira menengah?
Selain itu, pencegahan penyalahgunaan narkoba tidak dapat hanya bergantung pada tes rutin. Dibutuhkan pendekatan holistik yang meliputi pendidikan awal terhadap personel, pemantauan kesehatan mental dan kesejahteraan anggota, serta penguatan sistem pengawasan internal yang lebih akrab dengan kondisi lapangan. Tanpa dukungan elemen-elemen ini, tes urine bisa saja menjadi hanya bentuk formalitas yang tidak menyentuh akar masalah.
Dalam konteks yang lebih luas, upaya Polda Bengkulu ini menjadi contoh bagi daerah lain. Jika dijalankan dengan konsisten dan diimbangi dengan langkah-langkah pendukung yang tepat, maka langkah ini dapat menjadi tonggak penting dalam membangun Polri yang lebih bersih, profesional, dan dipercaya masyarakat. Namun, jika hanya sebatas ritual, maka harapan untuk perubahan akan tetap menjadi khayalan belaka.
Penulis ;Tim







