Kondisi Siring Irigasi Manjuto Kiri Kering, Petani XIV Koto Mengeluhkan Kesulitan Bersawah  

More articles

Mukomuko, Investigasi. News– Masyarakat petani dari XIV Koto mengeluarkan keluhan mendalam terkait kondisi siring Irigasi (DI) Manjuto Kiri Lubuk Sanai II yang saat ini dalam keadaan kering total. “Gimana mau bersawah? Bajak sawah pun tidak bisa dilakukan oleh karena air tidak ada sama sekali,” ujar salah satu perwakilan petani saat menyampaikan keluh kesah langsung kepada awak media.senin 19/1/2026

Setelah menerima informasi tersebut, awak media segera melakukan pengecekan langsung ke lokasi lapangan. Hasil pantauan menunjukkan bahwa apa yang disampaikan oleh masyarakat petani XIV Koto tersebut benar adanya; sebagian besar area persawahan yang seharusnya tergenang air kini hanya berupa tanah kering dan mengelupas.

Pihak Teknis: Kendala Disebabkan Pengaturan Debit Air yang Tidak Teratur

Baca Juga :  Baitul Mal Gayo Lues Aspirasi Hobby Menanam Kopi, Cabe dan Tembakau di Wilayah Dataran Tinggi

Untuk mendapatkan klarifikasi lebih lanjut, awak media melakukan konfirmasi kepada pihak teknis dari Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengairan Lubuk Gedang, Kecamatan Lubuk Pinang. Menurut pihak terkait, kendala kekeringan pada DI Manjuto Kiri disebabkan oleh pengaturan debit air yang tidak teratur; masyarakat petani yang berada di bagian hulu aliran irigasi seringkali menggunakan dan membendung air tanpa memikirkan kebutuhan petani di bagian hilir.

“Kami akan segera mengatasi masalah ini dan menambah debit air agar tidak sampai menimbulkan gejolak lebih lanjut di kalangan masyarakat petani,” janji perwakilan UPTD Pengairan Lubuk Gedang.

Petani Hulu: Kekurangan Debit Air Jadi Alasan Tidak Beraturan

Selanjutnya, awak media menelusuri dan melakukan wawancara dengan perwakilan masyarakat petani yang berada di bagian hulu aliran irigasi tersebut. Sumber yang tidak mau disebutkan namanya mengakui bahwa praktik penggunaan air yang tidak teratur memang terjadi; namun hal itu disebabkan oleh keterbatasan debit air yang tidak maksimal untuk memenuhi kebutuhan persawahan mereka.

Baca Juga :  Letkol Inf.Krismanto Bertindak Jadi Irup Perayaan HUT TNI Ke 77

“Kami bingung karena kebutuhan air tidak terpenuhi dengan baik; maka kami terpaksa membuka pematang sawah dan membendung sebagian aliran agar air dapat masuk secara maksimal ke lahan kami,” jelasnya.

Sumber tersebut juga menyampaikan rasa kecewa mendalam terkait implementasi proyek Strategis Nasional (PSN) renovasi dan pembangunan aliran irigasi Bendungan Wilayah Sungai (BWS) yang telah dialokasikan anggaran sebesar 25 Miliar rupiah. “Proyek yang digaungkan pemerintah pusat ini justru meninggalkan kesan yang sangat mengecewakan dan merugikan masyarakat petani,” ucapnya dengan nada kesal.

Menurutnya, tujuan utama program Strategis Nasional tersebut adalah untuk memberikan solusi permasalahan irigasi, meningkatkan ketahanan pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat petani. Namun, realitas yang terjadi jauh dari harapan; struktur pembangunan yang seharusnya berfungsi optimal justru malah menimbulkan masalah baru.

Baca Juga :  Walikota Pariaman Tutup Kejuaraan Taekwondo Cup

“Sebagai pihak terkait, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat harus segera mengambil sikap tegas dan menangani permasalahan ini secara tuntas; mulai dari mengatasi akar masalah hingga memberikan efek jera bagi pihak yang terbukti melakukan penyimpangan. Apalagi anggaran yang dikeluarkan tidak sedikit, mencapai 20 Miliar rupiah; hal ini bukan hanya merugikan masyarakat, tapi juga keuangan negara,” tegasnya menutup percakapan. (HS)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest