Bengkulu, Investigasi. News– Udara kotor, aktivitas sehari-hari terganggu, dan ancaman kesehatan mengintai warga Desa Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah. Ini bukan cerita fiksi, melainkan kenyataan pahit yang kini diteriakkan lantang oleh Redhowan Ahlim Abadi, mantan Ketua BEM Universitas Hazairin (UNIHAZ) Bengkulu periode 2024–2025. Sebagai putra daerah yang lahir dan besar di sana, Redhowan tak lagi diam: “Situasi seperti ini menuntut kehadiran negara secara cepat dan berpihak. 25/12/2025
Dalam pernyataan tegasnya, Redhowan menyoroti bagaimana polusi udara dan gangguan lingkungan telah merampas hak dasar warga atas udara bersih dan kesehatan. Respons lambat dari aparat, saling lempar kewenangan, serta langkah simbolis belaka hanya memperburuk penderitaan masyarakat. “Kesehatan warga tidak boleh menjadi biaya tersembunyi dari sebuah proses pembangunan,” tegasnya, menegaskan bahwa hak atas lingkungan hidup sehat dijamin UUD 1945.
Tuntutan Tegas: Pengawasan Ketat, Bukan Janji Kosong
Redhowan tak main-main. Ia menekankan perlunya pengawasan tegas, terbuka, dan bertanggung jawab terhadap setiap aktivitas usaha. Ego sektoral harus ditinggalkan demi kepentingan rakyat. “Pembangunan seharusnya menghadirkan rasa aman dan keadilan, bukan kegelisahan yang berkepanjangan,” ujarnya. Talang Empat bukan sekadar titik di peta administratif, tapi rumah bagi keluarga dan masa depan anak cucu.
Kami di redaksi sepakat: ini saatnya pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat bergerak nyata. Di mana KLHK, Dinas Lingkungan Hidup Bengkulu Tengah, dan pemangku kepentingan lain? Audit lingkungan mendesak, sanksi bagi pelanggar harus ditegakkan, dan transparansi informasi wajib diterapkan sekarang juga. Jangan biarkan Talang Empat menjadi korban pembangunan tak terkendali!
Generasi Muda Bersuara, Pemerintah Wajib Dengar
Sebagai mantan aktivis mahasiswa, Redhowan mewakili suara generasi muda yang tak mau lagi jadi penonton. Ia dorong semua pihak bersatu: “Negara harus hadir, bertindak adil, dan memastikan keselamatan rakyat menjadi prioritas utama.” Ini bukan sekadar seruan, tapi panggilan darurat untuk menyelamatkan desa yang menjadi saksi perjuangan putra daerahnya.
Warga Talang Empat menunggu bukti nyata, bukan kata manis. Saatnya bertindak – sebelum terlambat!. (Tim)







